Ingin tulisan kamu menghasilkan uang? Klik link inik

Tanda Tanya, Buat Apa?

photo by xframe.io


Saya temasuk pembaca artikel rutin. Artikel yang muncul di beranda google ku baca semua. Mulai berita politik, hukum, tips dan trik, sampai artikel yang nggak penting. Membaca artikel rutin ku lakukan kalau sudah bosan dengan berita di media sosial.

Tapi semakin menekuni kebiasaan membaca artikel online ada sesuatu yang semakin salah, bahkan nyata dibuat salah. Judul sering menjadi sasaran empuk untuk di “salah” kan. Sebagai contoh sederhana judul yang “salah” Jared Leto menjadi Joker di Justice League Hingga Banjir di Sungai Brantas. Yang jadi pertanyaan, apa hubungan Jared Leto sama sungai brantas? Nggak ada sama sekali!

Yang lebih ngeselin kalau ada berita yang diberi judul menggunakan kata ungkapan, tetapi di tutup dengan tanda tanya, seperti ini Myanmar Makin Memanas, Militer Nyatakan Perang ke Warga?

Ini maksudnya apa? Lu mau buat judul pernyataan atau judul pertanyaan sih?

Contoh kasus pertama mungkin masih bisa di maklumi ke “salah” annya karena mungkin tujuannya menggabungkan 2 topik menjadi satu berita yang padat. Pembaca masih bisa memilih untuk membaca atau mengabaikan (ya walaupun semua pembaca punya hak untuk itu, setidaknya pembaca punya bahan pertimbangan sebelum membaca artikelnya).

Tapi yang kedua ini sungguh salah. Pada pembelajaran tingkat sekolah dasar, fungsi tanda tanya digunakan untuk membuat kalimat tanya, contoh;

Siapa nama saudara perempuanmu?

Berapa jumlah kelerengmu?

Dimana rumahmu?

dan variasi kalimat tanya lainnya. Kalimat tanya diawali atau dibubuhi kata tanya dan diakhiri dengan tanda tanya. Pada pembelajaran tingkat menengah, tanda tanya digunakan untuk melengkapi kalimat yang masih diragukan kebenarannya, contohnya;

Perang Dunia 2 Disebabkan oleh Penyerangan Jerman terhadap Austria(?).

Dari uraian diatas dapat disimpulkan secara singkat dan ringkas bahwa tanda tanya digunakan untuk mengakhiri kalimat tanya, yang kedua tanda tanya digunakan untuk melengkapi kalimat yang masih diragukan kebenarannya dengan syarat membubuhkan tanda kurung. Sudah tau ya bedanya.

Balik lagi ke artikel Myanmar Makin Memanas, Militer Nyatakan Perang ke Warga? Coba kita identifikasi apa  yang salah. Judul ini  tidak mengandung kata tanya, berarti kita simpulkan ini bukan kalimat tanya, melainkan kalimat pernyataan, seharusnya tidak memakai tanda tanya. Jika kita asumsikan judul diatas adalah kalimat pernyataan yang masih diragukan, seharusnya penulisan harusnya Myanmar Makin Memanas, Militer Nyatakan Perang ke Warga(?)

Ingat! Kalimat yang diragukan bisa menggunakan tanda tanya dengan syarat harus dibubuhi tanda kurung. Apa fungsi tanda kurung disini? Memang seperti itu peraturan penulisan yang sesuai dengan PUEBI. Secara ngawur bisa disimpulkan, ya untuk membedakan mana kalimat tanya dan kalimat yang diragukan.

Sekarang yang jadi pertanyaan, apa yang menyebabkan kesalahan penulisan tanda baca pada judul artikel?

Yang paling jelas terlihat adalah untuk meraup atensi pembaca. Pengalaman pribadi, saya berkali kali tertipu dengan model judul seperti ini. Mungkin bukan hanya saya yang pernah mengalaminya. Kemungkinan lainnya adalah tingkat pemahaman penulis maupun editor tentang tanda baca masih lemah, tapi mungkin argumen ini gampang terpatahkan karena bekal menjadi penulis dan editor adalah pemahaman kaidah penulisan yang benar.

Dampak apa yang dapat ditimbulkan? Yang pertama dan yang paling jelas adalah kenaikan insight kunjungan terhadap artikel. Dengan pengertian lain, cuan semakin banyak. Dampak yang kedua dan paling miris, banyak pembaca yang salah paham dengan informasi yang dihadirkan.

Di awal, judul dibaca adalah sebuah pernyataan kepastian suatu informasi, setelah dibaca ternyata informasi yang disampaikan masih mengambang alias ragu, atau bahkan tidak sesuai sama sekali.

Yang terakhir dan paling membahayakan, para penulis artikel berita, editor, dan bahkan perusahaan penyedia artikel berita dapat dengan mudah menyebarkan informasi hoax  dengan berlindung di bawah judul yang mereka anggap sudah benar cara penulisannya.

Baca: pendidikan, penting atau tidak?

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak!
Karena kedewasaan tercermin dari apa yang keluar dari mulut dan perilaku.
Termasuk juga jempol saktimu
© Lifestyle Travel Writing. All rights reserved. Developed by Jago Desain