Ingin tulisan kamu menghasilkan uang? Klik link inik

Masalah Serius Yang Sering Muncul Menjelang Pernikahan


Masalah memang selalu muncul disetiap sendi kehidupan manusia. Selama masih bernafas, niscaya masalah akan selalu datang. Tak terkecuali ketika akan melaksanakan pernikahan. Kata orang orang yang sudah menikah, masa persiapan menikah adalah masa dimana pasangan kekasih diuji dengan berbagai masalah baru. Bisa di bilang masalah yang timbul selama masa persiapan pernikahan adalah "pengenalan" terhadap kondisi nanti setelah menikah.
Di sini sudah kita rangkum masalah masalah apa saja yang muncul ketika menjelang pernikahan. Sumber yang kita wawancarai pun merupakan orang yang langsung mengalaminya. Dan diakhir akan diberikan tips dan cara agar masalah masalah tersebut dapat di minimalisir atau dihindari.

Ekonomi

Ekonomi menjadi aspek yang paling sering disebut oleh narasumber. Dari 10 narasumber, 7 menyebutkan masalah ekonomi yang sama yaitu ketiadaan sumber keuangan yang mumpuni. Bisa dibilang, persiapan pada aspek keuangan pasangan yang akan melangsungkan pernikahan masih belum matang.
Ada beberapa hal yang menyebabkan persiapan keuangan kurang mumpuni. Yang pertama adalah ketiadaan tabungan selama bekerja. Kebanyakan pasangan yang akan melangsungkan pernikahan enggan untuk menabung, padahal jika dilihat keperluan untuk menikah cukuplah besar. Ini adalah kesalahan persiapan keuangan yang paling sering terjadi.


Yang kedua karena masalah ekternal, tabungan sudah tersedia sebelumnya. Tetapi terpaksa harus dipakai untuk keperluan yang mendesak lainnya. Salah satu narasumber bercerita bahwa sebelumnya ia merawat ayahnya yang sakit dari hasil ia menabung dan bantuan dari saudara. Ketika masa merawat ayahnya telah selesai, ia dihadapkan dengan masa sulit ekonomi. Menganggur dan pemasukan belum ada. Ketika di masa ini, ia memasuki proses pernikahan.
Yang ketiga masalah yang serba mendadak. Pengalaman ini dialami oleh salah seorang narasumber yang tiba tiba berhenti dari pekerjaan karena terdapat konflik dengan staff dan boss nya. Alhasil, selama 3 bulan terpaksa tanpa pemasukan. Walaupun setelah itu mendapat pekerjaan lagi, tetapi gaji di tempat kerja yang baru tidak cukup untuk menutupi biaya pernikahan.

Emosi

Mempersiapkan pernikahan memang menguras tenaga dan emosi. Bagaimana tidak, kita harus bolak balik ke kantor kecamatan, balai desa, puskesmas, bahkan polsek setempat untuk melengkapi segala dokumen persyaratan pernikahan. Belum lagi jika dokumen yang kita peroleh dari satu instansi tidak sesuai dengan yang diminta instansi selanjutnya. Seperti kejadian narasumber yang harus rela bolak balik dari kantor balai desa ke KUA harnya untuk membetulkan penulisan 1 kata yang salah. Ditambah lagi jarak balai desa dan KUA yang lumayan jauh.
Masalah akan berlanjut ketika ada kesalah pahaman antara pihak perempuan dan pihak laki laki. Narasumber yang lain mengungkapkan bahkan hal sepele dapat memicu pertengkaran. Waktu itu karena salah cetak ukuran foto, pertengkaran meluas hingga menghambat jalannya pengurusan dokumen prasyarat pernikahan. Hal ini terjadi karena kurangnya komunikasi antar mereka.
Ditambah lagi jika ada masalah masalah yang sebelumnya telah menumpuk. Ini yang nantinya akan memicu ketidak stabilan emosi. Seperti yang diungkapkan salah seorang narasumber, masalah persiapan keuangan yang belum cukup sebelumnya menjadi pemicu terjadinya pertengkaran. Hingga perselisihan pendapat antara pasangan dengan pihak ketiga seperti orang tua, keluarga, dan tetangga.

Adat & Budaya

Bagi yang menikah beda adat pasti akan merasakan susahnya mempersiapkan pernikahan sesuai dengan adat dan budaya. Apalagi jika masing masing keluarga memegang teguh nilai nilai adat. Seperti yang terjadi pada narasumber kita, sang lelaki merupakan Jawa tulen sementara sang wanita campuran Bali dan Madura. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan seperti penentuan hari baik, waktu terbaik untuk akad yang sesuai dengan hitungan primbon Jawa.
Perbedaan adat dan budaya ini yang kerap menimbulkan salah paham. Tetapi dengan terjalinnya komunikasi yang baik antara keluarga pihak laki laki dan perempuan semua urusan berjalan dengan lancar.
Lain hal dengan penuturan narasumber yang lainnya, meskipun sesama suku jawa dan bertetangga, masalah adat dan budaya tetap saja muncul. Karena kakak kakak dari pihak perempuan telah menikah dengan teman di kampung yang sama, maka anak terakhir yang merupakan calon dari narasumber tersebut tidak diperbolehkan menikah dengan teman di kampung yang sama juga. Untuk mengatasi masalah tersebut dibutuhkan komunikasi dan diskusi yang baik agar mendapat solusi terbaik.

Orang Ketiga

Munculnya orang ketiga terjadi karena beberapa faktor. Bisa tanpa kesengajaan, kebiasaan sehari hari, atau bahkan cerita masa lalu. Munculnya orang ketiga sangat mengganggu memang, bahkan lebih fatal akibatnya bisa merusak rencana perkawinan.
Narasumber menceritakan bahwa kemunculan orang ketiga saat di tempat kerja. Intimnya hubungan antar rekan kerja menjadi satu hal yang menyebabkan timbulnya rasa. Bahkan tidak jarang si pihak ketiga mencoba merayu untuk menggagalkan rencana pernikahan kita.
Narasumber selanjutnya menceritakan tentang timbulnya orang ketiga dari cerita pengalaman masa lalu. Ketika itu, si narasumber bertemu dengan mantan pacarnya yang sudah menikah. Karena si mantan pacar sedang dilanda masalah keluarga, dia menginginkan kembali membina hubungan lagi dengan sang narasumber.


Masalah masalah seperti diatas sangat mungkin terjadi pada kita yang tengah mempersiapkan pernikahan. Tetapi, apakah masalah tersebut dapat dihindari? Pastinya sangat bisa, karena pada dasarnya ketika kita berniat fokus untuk menikah dengan pilihan kita masalah masalah seperti diatas tidak akan mengganjal rencana baik kita. Tetapi, bagaimana jika kita terlanjur menemui masalah tersebut?
Sobat Redakturian dapat mengikuti beberapa tips yang diberikan oleh narasumber kita;


  • Ekonomi

Sebisa mungkin sebelum memutuskan untuk ke jenjang yang lebih serius, sobat Redakturian menyiapkan tabungan. Misalnya kalian sekarang baru lulus kuliah, persiapkan waktu menabung selama 3 tahun untuk menutup biaya pesta pernikahan. Untuk mengetahui perkiraan biaya yang dikeluarkan untuk pesta pernikahan bisa dilihat disini.

  • Emosi

Emosi memerlukan penanganan yang tak kalah pentingnya. Terkadang hal sepele bisa menjadi besar jika kita tak pandai pandai mengontrolnya. Untuk mengontrol emosi, perbanyak menjalin komunikasi dengan pasangan kita. Ini berfungsi untuk mengurangi potensi salah paham yang terjadi ketika kita dihadapkan situasi yang penuh tekanan.
Selanjutnya, perbanyak berbicara tentang Visi Misi yang harus diraih. Ini bertujuan menyatukan persepsi di masa depan.

  • Adat & Budaya

Perihal adat dan budaya selalu menjadi hal yang sensitif karena menyangkut orang banyak. Agar permasalahan adat dan budaya berjalan lancar, tingkatkan komunikasi antara kedua pihak keluarga agar solusi terbaik didapatkan. Ingat, diskusi perihal adat dan budaya harus dilakukan sebaik baiknya. Jadi persiapkan waktu khusus untuk membahasnya.

  • Orang ketiga

Sebenarnya jika kedua pasangan sadar dengan tujuan awal mereka, niscaya orang ketiga tidak akan muncul. Yang kita butuhkan hanyalah fokus terhadap tujuan kita yaitu menikah.
Tetapi apabila orang ketiga terlanjur muncul, hal yang perlu dilakukan adalah menolaknya. Jangan pernah mengacuhkan orang ketiga karena itu akan memberikan ruang bagi mereka untuk terus bergerak. Terus berikan pernolakan hingga ia sadar status dia dan kita. Jika penolakan tidak dihiraukan, lakukan tindakan yang tegas tetapi tetap terukur, resign dari tempat kerja/keluar dari lingkungan orang ketiga tersebut.




Atribusi khusus

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak!
Karena kedewasaan tercermin dari apa yang keluar dari mulut dan perilaku.
Termasuk juga jempol saktimu
© Lifestyle Travel Writing. All rights reserved. Developed by Jago Desain