Ingin tulisan anda dibaca banyak orang. Kirimkan tulisanmu disini

Demokrasi Berkarya Demokrasi Berkata

Demokrasi Berkarya ala Indonesia



Coretan di dinding membuat resah,

Resah hati pencoret mungkin ingin tampil


Potongan lirik yang cukup mewakili kondisi saat ini. Bagaimana tidak, coretan di dinding kekinian memiliki kekuatan hingga dapat membawa si pencoret ke ranah hukum. Bukan tentang pasal perusakan bangunan dan hak milik orang lain, tetapi tentang penghinaan ‘simbol negara’.


Sebuah mural raksasa bertuliskan Tuhan Kami Lapar dihapus lantaran telah viral. Jika dipahami pun, mural tersebut tidak memiliki ataupun mempengaruhi pembacanya ke arah negatif. Wong cuman curhatan tangan gatel saja kok. Tidak mengandung unsur memojokkan orang lain. Cuman mungkin karena momen yang pas di tengah pandemi dan PPKM yang berjilid-jilid, sehingga banyak orang yang ‘merasa’ terwakilkan dengan tulisan tersebut. Naah, sebelum orang-orang yang ‘merasa’ terwakilkan tersebut mengambil tindakan, akhirnya yang ‘merasa’ harus mencegah turun tangan agar orang yang merasa ‘terwakilkan’ tersebut tak bertindak lebih lanjut.


Curhatan lain yang lebih ngena adalah Dipaksa Sehat di Negeri Yang Sakit. Sesuai memang dengan kondisi saat ini. Dimana kondisi yang semakin carut-marut. Ekonomi kecil yang semakin menurun yang menyebabkan banyak pengusaha kesulitan hingga kolaps. Banyak warga yang terpaksa merelakan sanak keluarganya meninggal akibat covid. Hingga pewajiban vaksin yang semakin menyentuh ranah yang kurang tepat. Bagaimana tidak, hampir semua yang berhubungan dengan administrasi dipaksa melampirkan bukti vaksin yang notabene nya tidak masuk kategori administrasi kesehatan.


Dan puncaknya, coretan yang paling mendekati keadaan saat ini adalah sebuah mural dengan tulisan 404; Server Not Found dengan berlatarkan gambar mirip pak presiden. Kalau ini jelas bukan sebuah curhatan biasa, namun lebih dekat dengan kritik satire. Dimana rakyat yang telah bosan diombang ambing dengan kepastian, tetapi yang bersangkutan tidak kunjung memberi kepastian.


Jika dilihat dari sisi filosofi, karya adalah sebuah mutiara yang tak ternilai harganya. Ia semakin bernilai jika mampu menyajikan dan merangkum fenomena yang tengah terjadi. Apalagi jika karya tersebut digunakan untuk mengkritik dan menyampaikan aspirasi sang pencipta.

Selama ini kita selalu mendengar pemerintah menggaungkan kebebasan dalam mengkritik, tapi hingga saat ini sang pengkritik selalu mendapat masalah selepas mengkritik. Entah itu ditegur, di buru, hingga di penjara. Hingga tulisan ini dibuat, pemerintah tak pernah sekalipun menggaungkan cara mengkritik yang menurut mereka benar. Atau setidaknya memberikan arahan berkala tentang cara mengkritik yang benar.


Jika memang pemerintah menginginkan dikritik yang benar, setidaknya mereka memberi pola dan arahan bagaimana menyampaikan kritik yang benar, bukan malah menghukum  mereka yang menyampaikan kritik dengan cara yang mereka anggap salah. Saya yakin jika pemerintah serius dalam mengarahkan bagaimana cara mengkritik yang benar, para pengkritik akan dengan senang hati mengikuti dan menggunakan cara tersebut. Dan pada akhirnya, demokrasi yang selama ini digaungkan tepat sasaran dan dapat dinikmati semua orang.


Selama ini pemerintah memperlakukan kritik sama dengan memperlakukan narkoba, mereka selalu menyebut pengguna narkoba sebagai penyalah guna narkoba, tetapi hingga sekarang pun mereka tak pernah memberi arahan bagaimana menggunakan narkoba yang tepat.

Baca juga: jerinx sang duta anti covid

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak!
Karena kedewasaan tercermin dari apa yang keluar dari mulut dan perilaku.
Termasuk juga jempol saktimu