Ingin tulisan anda dibaca banyak orang. Kirimkan tulisanmu disini

Menyelami Surabaya dari Sudut Warung Kopi Bersama Silampukau



Surabaya, selalu menyimpan cerita menarik di dalamnya. Mulai dari cerita gemerlapnya kota hingga ganasnya kehidupan di dalamnya. Di sini, semua macam cerita tercipta dan bercampur membentuk sebuah skenario yang sangat megah. Sebagai sebuah kota metropolitan, sudah sewajarnya terkandung dinamika kehidupan yang maha asyik.

Silampukau, sebuah grup musik beraliran indie folk yang lahir di kota Surabaya berhasil merangkum fenomena yang terjadi di Surabaya. Segala  aktivitas dan dinamika sosial budaya berhasil direkam dalam bait bait lagu sendu nan memukau. 

Silampukau mengajak kita untuk menyelami kehidupan kota metropolitan dari sudut terkecil yang sering terabaikan. Lewat obrolan santai di warung kopi, di tepi jalan, di taman kota, di sanggar seni, lirik-lirik nyelekit nan apa adanya tercipta. Lirik lagu yang jujur menyadarkan kita bahwa gemerlap kota tak selamanya indah. Kadang juga menyilaukan, membutakan, dan menjerumuskan.

Melalui lagu Sang Juragan, duo Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening memberi gambaran betapa kerasnya kehidupan di Surabaya. Lewat sudut pandang seorang pengusaha cukrik, mereka menampung keluh kesah seorang penjual miras. Harus mengeluarkan biaya ekstra untuk mengamankan bisnisnya. Sebuah dinamika sosial yang unik, simbiosis mutualisme antara sang juragan miras dan pemangku kekuasaan.

Sepertinya cerita tentang simbiosis antara pemangku kekusaan dan pemilik kepentingan jamak terjadi di Surabaya. Hal ini tak lain dan tak bukan karena kehidupan yang sangat keras dan memaksa semua orang bertahan hidup dengan caranya masing masing, semakin tak memedulikan sekitarnya. Seperti yang tertulis pada lirik Balada Harian;

   **     Mentari tinggal terik bara tanpa janji.
            Kota tumbuh, kian asing, kian tak peduli;
            dan kita tersisih di dunia yang ngeri,
            dan tak terpahami ini.

Lagi-lagi Silampukau tidak berbicara tentang baik dan buruk, tetapi tentang bagaimana cara bertahan hidup di belantara kota.

Di tambah lagi banyaknya perantau yang berbondong bondong datang ke Surabaya dengan berbekal mimpi-mimpi indah masa depan cerah yang ternyata malah dikecewakan oleh kenyataan. Ya, tak semua perantau dapat menikmati kemegahan yang ditawarkan Surabaya. Banyak dari mereka yang terpaksa hancur lebur tergerus kerasnya kehidupan kota. Di Lagu Rantau(sambat omah), koreng-koreng perantau di kuliti.

Konon katanya, di Surabaya pernah bediri sebuah komplek pusat kesenangan pria terbesar se-Asia. Komplek yang telah berdiri berpuluh tahun dan menjadi suaka kesenangan bagi pria Surabaya ditutup untuk selamanya oleh seorang walikota yang namanya cukup moncer karena kebiasaan marah marahnya. Mungkin bisa dikatakan sebuah prestasi di masa kepemimpinan beliau, tapi menjadi nestapa bagi kaum pria yang membutuhkan suaka birahi  di Surabaya.
Di dalam lagu Si Pelanggan, duo Kharis dan Eki nampaknya setuju jika bisnis birahi akan selamanya abadi mendampingi kehidupan jalang manusia.

Ada juga lagu yang menceritakan pusat hiburan yang pernah berjaya di masanya. Taman Remaja Surabaya, sebuah tempat hiburan yang menawarkan hiburan murah di tengah gemuruhnya kota. Orkes melayu cukup menjadi peneduh penat, bianglala cukup ampuh menghadirkan tawa bocah-bocah. Di lagu Bianglala, kita diajak membongkar kembali kenangan sendu di Taman Remaja Surabaya.

Saya teringat ketika SD, belajar siang malam agar mendapat peringkat 10 besar di kelas yang nantinya ditunjukkan ke penjaga loket tiket Taman Remaja Surabaya untuk mendapat kesempatan mendapat tas sekolah gratis, sungguh manis. Walaupun sekarang tak beroperasi lagi, kenangan manis di sana akan tetap ada.

Berpindah ke tema cinta-cintaan yang sekaligus menandai hubungan bilateral antara Indonesia dan Perancis(katanya). Terciptalah lagu Puan Kelana yang menceritakan kesedihan seorang lelaki yang ditinggalkan kekasihnya ke luar negri. Padahal jika di selami lebih dalam, tak ada bedanya antara Paris dan Surabaya. Mereka sama sama menyimpan luka, duka, nestapa, dan marabahaya.

Beralih ke tema sosial. Silampukau  menceritakan sebuah permainan idola semua elemen masyarakat di Surabaya; sepakbola. Karena keterbatasan lahan, mereka menggunakan jalan raya sebagai arena bermain bola. Di lagu Bola Raya, Silampukau juga menyentil sedikit para tuan tanah yang kerap mematok biaya tinggi hanya untuk bermain bola.

Tak terlalu asing memang melihat anak-anak, muda, dan bahkan orang tua bermain sepak bola di tengah jalan raya, taman, dan bahkan lahan kosong yang tak digunakan. Ini terjadi karena kecintaan mereka terhadap sepak bola tetapi tak punya uang untuk menyewa lapangan untuk bermain.

Di lagu Doa 1, Silampukau mengejawantahkan harapan seorang musisi. Tentang harapan menuai popularitas di layar televisi. Tentang harapan memberangkatkan sang mama ke tanah suci. Tetapi yang menjadi ironi adalah menjadi musisi tak  memberikan jaminan kebebasan hidup. Di tengah perjuangan menjadi musisi, menjadi penjaga distro pun dilakoni untuk menyambung hidup. Di lagu Doa 1, harapan seorang musisi indie diungkapkan secara gamblang.

Petualangan di Surabaya pun di tutup dengan sebuah lagu yang puitis. Malam Jatuh di Surabaya berhasil menyita kita dengan lirik yang indah. Sederhana namun memberi makna mendalam tentang situasi pergantian hari di Surabaya. Umpatan, deru mesin kendaraan, suara adzan yang terkupakan, kira kira seperti itulah suasana pergantian hari yang terjadi di jalur penghubung antar kota utama di Surabaya; Jalan Ahmad Yani.

Silampukau, selalu dapat membawa kita berpetualang menembus hingga ke kolong-kolong Surabaya. Melalui larik larik lirik yang sederhana, jujur dan apa adanya, membawa kita kian dekat dengan keseharian dinamika kota. Tak mengherankan jika mereka disebut sang biduan belantara Surabaya.




Kunjungi juga markas Silampukau

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak!
Karena kedewasaan tercermin dari apa yang keluar dari mulut dan perilaku.
Termasuk juga jempol saktimu